This is default featured post 1 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

This is default featured post 2 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

This is default featured post 3 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

This is default featured post 4 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

This is default featured post 5 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

This is default featured post 5 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

This is default featured post 5 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

This is default featured post 5 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

This is default featured post 5 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

This is default featured post 5 title

Assalamu'alaikum wr.wb,, pemilik blog berharap, blog ini dapat bermanfaat bagi ikhwan dan akhwat yang membaca artikel ISLAMI QOLBU

Koleksi Ayam Bangkok

Cari artikel disini.

please wait for search box

Selasa, 18 Januari 2011

Utamanya menjadi seorang MUADZIN

Keutamaan mengumandangkan ADZAN

Muadzin adalah orang yang beradzan guna memanggil orang lain untuk melaksanakan shalat berjama’ah di masjid. Menjadi muadzin tentu bagi seorang yang memiliki keimanan yang kuat adalah sangat didamba dan sangat berlomba guna mendapatkan jatah adzan. Sebenarnya apa sih keutamaan beradzan di masjid sehingga banyak orang-orang shalih yang berlomba-lomba melakukan hal ini ?
Ya, jawabannya mudah saja, karena seperti yang kita ketahui bahwa pahala menjadi mu’adzin itu sangat besar, lihat dan bacalah hadits berikut ini :
Seorang muazin diampuni sepanjang suaranya dan
pahalanya bagaikan pahala orang yang shalat
bersamanya(Shahih Jami).
Ini menjelaskan betapa utamanya menjadi seorang mu’adzin.Yaitu mendapat ampunan sepanjang suaranya terdengar dan juga yang tidak kalah pentingnya yaitu tentang pahalanya bagaikan pahala orang yang shalat bersamanya. Maksudnya adalah bahwa adzan adalah menyuruh kepada kebaikan, ingatlah bahwa siapa yang menyuruh kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sama seperti orang yang disuruh melakukan kebaikan tersebut tanpa mengurangi pahala sedikit pun. Semisal, ketika kita shalat shubuh kita adzan di masjid dekat rumah kita, akhirnya ada 30 orang yang datang, kita mendapat pahala shalat dari 30 orang tersebut, ya jadi kira-kira kita secara tidak langsung mendapatkan pahala ( 30 x 2 ) = 60 raka’at shalat shubuh dan pahala 2 raka’at shalat shubuh dari shalat shubuh kita sendiri, jadi dari adzan yang hanya 2 – 4 menit saja, pahalanya banyak dan agung.

Maka itu mau dapat pahala jutaan raka’at shalat shubuh secara tidak langsung ? Adzan saja di masjidil haram saat musim haji, karena diperkirakan ada sekitar 3.000.000 jama’ah haji setiap tahun yang ke sana.

Dan jangan juga lupa menyebarkan artikel da’wah ini dimana pun, baik diprint out lalu di tempel di mading sekolah, masjid, komplek, atau kantor atau pun universitas supaya pahala kita bertambah banyak. Siapa tahu dari tulisan ini yang sederhana bisa membuat kita dapat pahala shalat ribuan bahkan jutaan rakaat secara tidak langsung per harinya, Subhanallaah.
Wallaahua’lam bis shawab.

berbagai cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Beberapa Cara Mendekatkan Diri Kepada ALLAH SWT, belajar mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa



1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah
Dengan sholat, berdo’a dan dzikir kepada Allah, Inya Allah hati menjadi tenang, damai dan makin dekat dengan-Nya

2. Sholat tahajud
Dengan sholat tahajud Insya Allah cenderung mendapatkan perasaan tenang. Hal ini dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi keheningan dan ketenangan suasana,yang tentu saja semua itu hanya dapat terjadi atas izin-Nya. Pada malam hari, diri ini tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan ataupun urusan-urusan duniawi lainnya sehingga dapat lebih khusyu saat menghadap kepada-Nya.

3. Mengingat kematian yang dapat datang setiap saat
Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Dan dapat secepat kilat menjemput.

4. Membayangkan tidur di dalam kubur
Membayangkan tidur dalam kuburan yang sempit , gelap dan sunyi saat kita mati nanti. Semoga amal ibadah kita selama di dunia ini dapat menemani kita di alam kubur nanti.

5. Membayangkan kedahsyatan siksa neraka
Azab Allah sangat pedih bagi yang tidak menjauhi larangan-Nya dan tidak mengikuti perintah-Nya.. Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu.Ya Allah bimbinglah kami agar dapat memanfaatkan sisa hidup kami untuk selalu dijalan-Mu.……

6. Membayangkan surga-Nya
Kesenangan duniawi hanya bersifat sementara, sangat singkat dibanding dengan kenikmatan di akhirat yang tidak dibatasi waktu.Semoga kita dapat selalu mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan Insya Allah diizinkan untuk meraih Surga-Nya. Amin…..

7. Mengikuti tausyiah atau mengikuti pengajian secara rutin seminggu satu kali (minimal), dua kali atau lebih. Insya Allah… dengan mendengar tausyiah atau mengikuti pengajian, akan meningkatkan keimanan karena selalu diingatkan kembali utk selalu dekat kpd Allah SWT. Perlu dicatat, dikarenakan iman bisa turun atau naik, maka harus dijaga agar iman tetap stabil pada keadaan tinggi/ kuat dengan mengikuti tausyiah, pengajian dsb.

8. Bergaul dengan orang-orang sholeh
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa tingkat keimanan kita bisa turun atau naik, untuk itu perlu dijaga agar tingkat keimanan kita tetap tinggi. Berada pada lingkungan kondusif dimana orang-orangnya dekat dengan Allah SWT, Insya Allah juga akan membawa kita untuk makin dekat kepada-Nya.

9. Membaca Al Qur’an dan maknanya (arti dari setiap ayat yang dibaca)
Insya Allah dengan membaca Al Qur’an dan maknanya, akan menjadikan kita makin dekat dengan-Nya.

10. Menambah pengetahuan keislaman dengan berbagai cara, antara lain dengan : membaca buku, membaca di internet (tentang pengetahuan Islam, artikel Islam, tausyiah dsb), melihat video Islami yang dapat meningkatkan keimanan kita.

11. Merasakan kebesaran Allah SWT, atas semua ciptaan-Nya seperti Alam Semesta (jagad raya yang tidak berbatas) beserta semua isinya.

12. Merenung atas semua kejadian alam yang terjadi di sekeliling kita (tsunami, gunung meletus, gempa dsb). Dimana semua itu mungkin berupa ujian keimanan, peringatan, atau teguran bagi kita agar kita selalu ingat kepada-Nya/ mengikuti perintah-Nya. Bukan makin tersesat ke perbuatan maksiat atau perbuatan lain yang dilarang oleh-Nya. Ya Allah kami mohon bimbingan-Mu agar kami dapat selalu introspeksi atas semua kesalahan yang kami perbuat, meninggalkan larangan-Mu dan kembali ke jalan-Mu ya Allah.

14. Mensyukuri begitu besar nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT
Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah orang lain yang lebih susah. Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh-Nya.Saat ini kita masih bisa bernafas, masih bisa makan, bisa minum, masih mempunyai keluarga, masih mempunyai apa yang kita miliki saat ini,masih mempunyai panca indera mata, hidung, telinga dan…masih bisa bernafas (masih diberi kesempatan hidup). Masih pantaskah kita tidak bersyukur dan tidak berterimakasih pada-Nya.
Oleh : hamba Allah

Kewajiban anak terhadap orang tua


INGAT!!



1. Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah Ta’ala.
Menaati kedua orangtua hukumnya wajib atas setiap muslim, sedang mendurhakai keduanya merupakan perbuatan yang diharamkan, kecuali jika mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah Ta’ala (berbuat syirik) atau bermaksiat kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, ….” (QS.Luqman: 15). Anda juga dapat membaca hal yang sama dalam Surat Al Israa’ ayat 23-24 serta Ash Shaaffat ayat 102.
            Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan”. (HR. Al-Bukhari)

            Adapun contoh ketaatan anak kepada orangtuanya dapat diwujudkan dalam bentuk:

            a. Apabila orang tua meminta makan maka anak wajib memberikan makan.
            b. Apabila orang tua butuh dilayani maka anak waji melayani.
            c. Apabila orang tua membutuhkan pakaian maka anak wajib membelikannya.
            d. Jika anak dipanggil maka wajib segera datang.
            e. Perintah apapun asal bukan maksiat maka wajib dilaksanakan.

2. Berbakti dan merendahkan diri di hadapan kedua orangtua

Allah Ta’ala berfirman, artinya, “…dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (QS. Al-Israa’: 23-24)  Anda akan mendapati ayat serupa dalam Al Baqarah ayat 83, An Nisaa’ ayat 36, Al An’aam ayat 151, Al ‘Ankabuut ayat 8, Lukman ayat 14, Al Ahqaaf ayat 15

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orangtuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim) .

            Di antara bakti terhadap kedua orangtua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti mereka, walaupun berupa isyarat atau dengan ucapan ‘ah’, tidak mengeraskan suara melebihi suara mereka. Rendahkanlah diri di hadapan keduanya dengan cara mendahulukan segala urusan mereka.

            Wujud lain sebagai pernyataan anak berbakti dan merendahkan diri kepada orangtuanya adalah:
            a. Jangan memanggil orang tua dengan namanya.
            b. Apabila berjalan tidak boleh mendahului orang tua (jika berjalan bersama).
            c. Anak wajib ridho terhadap sesuatu yang terjadi / yang ada pada dirinya .
            * Sesuatu yang membuat kita senang beritahukan kepada orang tua agar senang,

                tetapi jika sesuatu membuat kita sedih jangan diberitahukan pada orang tua.

3. Berbicara lemah lembut di hadapan mereka

            Bergaul dengan orangtua dengan cara yang baik, antara lain adalah dengan berbicara yang lemah lembut kepada keduanya. Tawadlu (rendah hati) kepada keduanya merupakan suatu hal yang wajib  bagi anak.


4. Menyediakan makanan untuk mereka

 
Hal ini juga termasuk bentuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika hal tersebut merupakan hasil jerih payah sendiri. Lebih-lebih jika kondisi keduanya sudah renta.
Sudah seyogyanya, mereka disediakan makanan dan minuman yang terbaik dan lebih mendahulukan mereka berdua dari pada dirinya, anaknya dan istrinya.
5. Meminta izin kepada mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan lainnya.

 
Izin kepada orangtua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan (kewajibannya untuk dirinya-pent). Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya, ‘Apakah kamu masih mempunyai kedua orangtua?’ Laki-laki tersebut menjawab, ‘Masih’. Beliau bersabda, ‘Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim), dan masih banyak hadits yang semakna dengan hadits tersebut.
6. Memberikan nafkah kepada orangtua

            Beberapa ayat dalam Al Qur’an yang membahas tentang hal ini adalah Al Baqarah ayat 15 dan Ar Rum ayat 38. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata, “Ayahku ingin mengambil hartaku”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil, serta telah berbuat baik kepadanya.


7. Membuat keduanya ridha dengan berbuat baik kepada orang-orang yang dicintainya.
Hendaknya seseorang membuat kedua orang tuanya ridha dengan berbuat baik kepada orang-orang yang mereka cintai. Yaitu dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka, dan lain sebagainya.


8. Memenuhi sumpah/Nazar kedua orangtua
Jika kedua orang tua bersumpah untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena hal itu termasuk hak mereka.


9. Tidak Mencaci maki kedua orangtua.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci maki orangtuanya.” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa ada orang yang mencaci maki orangtuanya?’ Beliau menjawab, “ Ada. Dia mencaci maki ayah orang lain kemudian orang tersebut membalas mencaci maki orangtuanya. Dia mencaci maki ibu orang lain lalu orang itu membalas mencaci maki ibunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Terkadang perbuatan tersebut tidak dirasakan oleh seorang anak, dan dilakukan dengan bergurau padahal hal ini merupakan perbuatan dosa besar.


10. Mendahulukan berbakti kepada ibu daripada ayah
Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” beliau menjawab, “Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau kembali menjawab, “Ibumu”. Lelaki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu siapa lagi? Tanyanya. “Ayahmu,” jawab beliau.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas tidak bermakna lebih menaati ibu daripada ayah. Sebab, menaati ayah lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dalam hal yang dibolehkan syari’at. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan taat kepada suaminya.
Maksud ‘lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu’ dalam hadits tersebut adalah bersikap lebih halus dan lembut kepada ibu daripada ayah. Sebagian Ulama salaf berkata, “Hak ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi.”


11. Mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua daripada berbuat baik kepada istri.
Di antara hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua lalu mereka tidak bisa keluar kemudian mereka bertawasul dengan amal baik mereka, di antara amal mereka, ‘ada yang mendahulukan memberi susu untuk kedua orang tuanya, walaupun anak dan istrinya membutuhkan’.

12. Mendoakan kedua orang tua

            Ayat Al Qur’an yang membahas tentang kewajiban anak mendoakan keduanya adalah Ibrahim ayat 41, Al Israa’ ayat 24 dan Nuh ayat 28.

13. Memelihara Orangtua

            Ayat Al Qur’an yang membahas tentang hal ini dapat anda jumpai dalam Al Israa’ ayat 23 dan Al Ahqaaf ayat 15.

Senin, 17 Januari 2011

Ganjaran Sholat Lima Waktu . RAFF

Ganjaran melaksanakan solat lima waktu


Shalat ialah berhadap  hati kepada Allah SWT sebagai ibadah, dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan, yang dimulai dengan takbir  dan diakhiri dengan salam serta menurut syarat – syarat yang telah ditentukan syara’. Tahukah antum (sidang pembaca) bahwa dari lima Rukun Islam, hanya perintah Shalat yang tidak diterima oleh Rasulullah SAW di bumi, tetapi langsung diterima dari langit (diluar angkasa) yaitu pada ketika terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj dan diterima oleh Junjungan kita, Nabi termulia, Rasul paling agung, Baginda Nabi Besar Muhammad SAW tanpa perantara malaikat Jibril As tetapi langsung (berhadapan) dari Allah SWT, Tuhan Pencipta Dan Pemelihara Alam Semesta, Robbul ’Alamin.

·        Shalat adalah salah satu ibadah khusus yang merupakan dialog (pembicaraan) langsung antara muslim dengan Tuhannya (Allah SWT) dalam pembicaraan mana dikemukakan :

a.      Pengakuan atas ke Maha Esaan dan Kesempurnaan seluruh sifat-Nya, serta pernyataan syukur atas nikmat-Nya yang tak terhingga (terhitung) atas seluruh makhluk-Nya, termasuk diri pribadi orang yang shalat sendiri.
b.     Permohonan akan keampunan dari segala dosa dan kesalahan yang telah terjadi serta kebebasan dari siksa neraka di akhirat. Dan kebahagiaan serta keridhaan–Nya dunia dan akhirat.

c.      Ikrar atau janji pengabdian (kepatuhan atas segala ajaran–Nya) khusus bagi-Nya serta penyerahan diri yang mutlak kepada-Nya.



·        Sementara titik sasaran atau tujuan daripada shalat adalah :



1.      Memupuk keimanan terhadap Allah SWT agar setiap waktu jiwa kita senantiasa teringat dan terikat kepada-Nya sehingga seluruh gerak hidup kita terbimbing kepada perbuatan – perbuatan yang terpuji dan di ridhoi-Nya serta terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tercela dan dimurkai-Nya.

2.      Shalat yang dapat mencapai titik sasaran demikian adalah shalat yang dilakukan dengan khusu’ yaitu yang dijiwai oleh kesatuan antara tiga unsur yakni unsur : Kesadaran akan maksud dan tujuan (titik sasaran) shalat, unsur pengertian akan arti segala ucapan (bacaan) dan gerak yang dilakukan dan unsur perhatian penuh (konsentrasi) kepada apa yang sedang diucapkan dan dilakukan.



·        Shalat seperti dikatakan diatas adalah salah satu ibadah menurut ajaran Islam yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dilakukan dengan cara-cara tertentu menurut syarat-syarat yang telah ditentukan syara’



Ada dua macam shalat sesuai dengan hukum yang ditentukan, yaitu shalat wajib dan shalat sunnat. Shalat wajib (fardhu) wajib dikerjakan oleh orang yang mengaku Islam (beriman kepada Allah dan Rasul-Nya) dengan syarat baligh dan sehat pikiran (berakal) dan berdosa bagi yang tidak mengerjakan (melakukan) shalat. Sedangkan shalat sunnat mendapat pahala bagi yang mengerjakan tetapi tidak berdosa bagi orang yang tidak mengerjakannya.

 Di dalalm kitab suci Al-Qur’an banyak sekali terdapat dalil yang mewajibkan (kita) insan beriman shalat, begitu juga didalam Hadist-hadist Rasulullah SAW.

·         Misalnya perhatikan Firman Allah SWT :

 ”Dan dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat dan tunduklah (rukuk) bersama-sama orang-orang yang pada rukuk.” (QS. Al-Baqarah : 43)


·        Atau Firman-Nya :

”Kerjakanlah shalat sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan yang jahat (keji) dan yang mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) itu adalah ibadah yang paling utama.” (QS. Al-Ankabut : 45)


·        Kemudian Firman-Nya :

”Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha : 132)


·        Allah SWT berfirman :

”Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ : 103)



·        Firman Allah SWT :

”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’.” (QS. AL-Baqarah : 45)



·        Dan Firman-Nya :

”Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha : 14)



·        Dan Firman-Nya :

”Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (QS. Alaq : 19)

Shalat Jum’at hukumnya wajib (fardhu) bagi tiap-tiap muslim, mukallaf, laki-laki, sehat dan bermukim (bukan musafir).


·        Perhatikan Firman Allah SWT :

”Hai orang-orang yang beriman, apabila diserukan untuk mengerjakan shalat Jum’at, maka segeralah kamu pergi mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Demikian yang lebih baik bagimu, kalau kamu mengetahui.” (QS. Al-Jum’ah : 9)



·        Dan Firman-Nya :

”Kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. Al-’Ankabut : 45)


·        Dan Hadist-hadist Nabi SAW berikut ini :

”Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat diwaktu usia mereka meningkat tujuh tahun dan pukullah (kalau enggan (tidak mau) melakukan shalat) diwaktu mereka meningkat usia sepuluh tahun.” (HR. Abu Daud).



        Didalam Hadist ini, perintah shalat ditanamkan kedalam hati dan jiwa anak-anak dengan cara pendidikan yang cermat serta dilakukan sejak kecil.



·        Nabi Muhammad SAW bersabda :

”Wanita itu kalau haid tidak wajib shalat dan puasa.” (HR. Bukhari)



·        Berkata Ummu Salamah :

”Wanita-wanita yang nifas dizaman Nabi SAW tidak shalat 40 (empat puluh) hari.” (HR. Turmudzi)



                











                  Shalat seperti dikatakan diatas wajib bagi laki-laki dan wanita yang telah cukup umur (baligh) berakal dan dalam keadaan sadar. Tetapi sesuai Hadist tersebut diatas dikecualikan bagi wanita yang sedang Haid dan nifas tidak wajib shalat selama waktu berlangsungnya haid dan nifas tersebut. Apa itu Haid dan apa itu Nifas ? Wanita yang sedang Haid adalah wanita yang sedang mengeluarkan darah yang biasa keluar setiap bulan, sementara Nifas adalah wanita yang mengeluarkan darah yang keluar sesudah melahirkan.

·        Hadist dari Ubadah Ibnu Ash-Shamit, bersabda Nabi SAW :



”Ada lima shalat yang Allah wajibkan kepada hamba - hamba, barangsiapa yang mengerjakannya dan tidak menyia - nyiakannya sedikit pun karena menganggap remeh akan haknya maka Allah memberikan janji akan memasukannya kedalam syorga. Barangsiapa yang tidak mengerjakannya maka Allah tidak memberikan janji kepadanya, jika berkehendak maka Allah akan mengadzabnya dan jika berkehendak maka Dia akan memasukannya kedalam Syorga.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i)

·        Dari Jabir r.a. bahwa Nabi SAW bersabda :

”Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai jernih yang mengalir didepan pintu rumah salah seorang diantara kalian, dia mandi disana setiap hari sebanyak lima kali, maka apakah kalian melihat akan ada kotoran yang tersisa padanya ? Para sahabat menjawab: ”Tentu tidak ada.” Maka Rasulullah SAW bersabda: ”Maka sesungguhnya shalat lima waktu itu akan membersihkan dosa-dosa sebagaimana air yang membersihkan kotoran.” (HR. Muslim)

·        Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :

”Sesungguhnya shalat itu merupakan pelebur dosa (yang dilakukan) diantara waktu-waktu shalat itu, selagi dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)



·        Bersabda Nabi SAW :

”Pemisah antara seseorang dengan kesyirikan atau kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)



·        Dari Buraidah r.a. bahwa bersabda Rasulullah SAW :

”Perjanjian antara kami dan antara mereka (orang munafik) adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i dan Turmudzi)



·        Diriwayatkan dari Syuraik dari Abi Wail dari Abdullah, Rasulullah SAW bersabda :

”Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba adalah shalat dan perkara pertama kali yang akan diputuskan diantara manusia adalah urusan darah.” (HR. An-Nasa’i dan Thabrani.)



Saudaraku, sidang pembaca yang budiman, sesuai judul tulisan (artikel) kita tersebut diatas, mari kita simak sebuah Hadist Nabi SAW : (Artinya) ”Sesungguhnya yang mula-mula dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka menanglah dia dan lepas dari siksaan Allah. Dan jika shalatnya rusak, maka sungguh rugilah dia dan sia-sialah amal – amalnya. Maka berkatalah Tuhan Azza Wajalla : Lihatlah bagi hamba-Ku itu, adakah tambahan (shalat sunnatnya) atau tidak ? Jika ada, maka dengan itu disempurnakan kekurangan – kekurangan ibadah fardhunya. Kemudian dilakukanlah semua amal ibadahnya dengan cara demikian.” (HR, Turmudzi).



Berdasarkan Hadist shaheh yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi tersebut diatas, jelas bahwa yang pertama-tama dihisab dari amal kita pada hari kiamat adalah shalat kita. (shalat fardhu kita yang lima waktu).



                  Karena itu layak sekali kalau Allah SWT menganggap shalat sangat penting dan mendasar, sebab kedudukan shalat itu begitu utama, bahkan dalam sebuah Hadist dikatakan shalat merupakan tiang agama. Barangsiapa mendirikan shalat berarti menegakkan agama Allah dan barangsiapa melalaikan shalat, berarti merobohkan agama! Sekarang jujur saja, mari bertanya kepada diri kita masing-masing. Sudahkah kita mendirikan shalat? Atau malah kita telah melalaikan shalat? Mendirikan shalat itu artinya setiap datang waktu kita menyegerakan shalat, melalaikan shalat itu artinya meskipun kita sudah tahu (mendengar) waktu shalat itu sudah tiba, tetapi kita masih saja menunda-nunda shalat. Sementara kita (manusia dan seluruh makhluk di dunia) pasti akan mati Qullu Nafsin Dzaiqatul maut, setiap yang bernyawa (hidup) akan mengalami mati. Dan kematian datangnya tidak dapat diterka, bisa hari ini, besok, lusa atau seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi yang pasti kematian itu akan datang kepada kita. Ingat! Menyegerakan shalat mendapat ganjaran (pahala) dan menunda – nunda shalat tentu ada sangsi (hukuman) nya. Jangan sekali-kali kita mempunyai pikiran untuk menunda-nunda shalat. Karena sekali kita sudah mulai menunda shalat, kita akan terus mengulang dan terus mengulang menunda shalat. Padahal Allah SWT memberikan kita umur tidak lain untuk kita shalat (ibadah) dan memperbanyak amal shaleh dan amal-amal ibadah kita itu adalah sebagai bekal akhirat kita.



                  Kalau kita selalu menunda-nunda shalat, kita akan menjadi insan yang miskin, miskin ibadah, miskin amalan dan kalau sudah demikian kebiasaan buruk ini akan mengantarkan kita kepada kesengsaraan – kesengsaraan yang kekal di akhirat kelak. Nau’udzubillah! Summa Nau’udzubillah. Lantas apa ganjaran dan apa pula hukuman orang yang menunda-nunda shalat?



                  Sidang pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa ganjaran bagi orang-orang yang takwa (Khusu’ Shalatnya), tidak menunda-nunda shalat, berbakti serta taat dalam menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan taat menjauhi segala larangan-larangan-Nya adalah berupa Syorga (Al-Jannah)



·        Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini :

”Sungguh telah berbahagialah orang-orang mukmin yang mereka khusu’ dalam shalatnya.” (QS. Mukmin : 1-2)



Tetapi Saudaraku, hukuman bagi mereka yang lalai (menunda-nunda shalat, melecehkan, meremehkan bahkan meninggalkan shalat) adalah sangat buruk dan keji (pada hari kiamat) yaitu menjadi penghuni Neraka Saqor.



·        Sesuai Firman Allah SWT :

”Apakah yang memasukkan kamu kedalam Saqor (neraka). Mereka menjawab : ”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir : 42-43)

                

·        Dan Firman Allah SWT berikut ini :

”Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)



·        Dan Firman-Nya :

”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un : 4-5)



Apa kata orang-orang berilmu (ulama-ulama) besar (terdahulu) setentang surat Al-Ma’un ayat 4-5 ini ?

* Atho’ Ibnu Yasar berkata : ”Al-Wail adalah lembah di Neraka Jahanam yang andaikan gunung dilemparkan kesana maka akan lumer (leber, meleleh) karena saking panasnya.”

* Sedangkan Ibnu Abbas r.a. mengatakan :

”Wail adalah sebuah lembah di Jahanam, yang Jahanam meminta sebagian panas kepadanya dan ia (lembah Jahanam) merupakan tempat tinggal orang-orang yang mengakhir-akhirkan shalat dari waktunya.”



·        Sementara Al-Hasanul Bashri mengomentari : ”Dia adalah orang yang lalai dari shalat sehingga keluar dari waktunya.”

·        Dan orang berilmu (ulama) Wahab bin Munabbih berkata : ”Sungguh mengherankan keadaan orang-orang, mereka menangis terhadap orang yang mati jasadnya, tetapi mereka tidak pernah menangis terhadap orang yang mati hatinya.”, yang dia (Wahab) maksudkan dengan mati hatinya adalah dengan meninggalkan shalat.



·        Dari Abu Darda r.a.  yang dia berkata :

”Kekasihku (Rasulullah SAW) telah berwasiat kepadaku : (Yaitu) ”Janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu walaupun engkau dipenggal, walaupun engkau dibakar, dan janganlah engkau meninggalkan shalat maktubah (wajib) dengan sengaja. Barangsiapa yang meninggalkannya dengan sengaja maka aku lepas tanggungan darinya Dan janganlah engkau meminum khamar karena sesungguhnya ia adalah konci segala keburukan.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi).



    * Hadist dari Buraidah r.a. bahwa telah bersabda rasulullah SAW :

”Barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar maka telah terputus seluruh amalannya.” Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan : ”Seakan-akan keluarga dan hartanya lenyap.” (HR. Muslim)



                  Saudaraku sesama muslim, kalau kita masih suka (sering) meninggalkan shalat (lalai, menunda-nunda, melecehkan, meremehkan dan menyia-nyiakan hak Allah.) Apakah kelak yang akan kita katakan kepada Tuhan kita (Allah SWT) di Akhirat pada Hari Kiamat nanti ketika Sang Maha Pencipta bertanya kepada kita tentang shalat yang merupakan pertanyaan pertama kali untuk kita? Kalau kita menjawab : ”Aku tidak melakukannya.” Apakah akan diterima amal-amal kita sebaik apapun amal itu? Jawabnya: Sebaik apapun amal-amal kita, sesuai Hadist yang diriwayatkan Imam Muslim tersebut diatas tetap tidak diterima oleh Allah SWT karena kita lalai didalam shalat kita. Naudzubillah! Summa Naudzubillah. Sekarang perhatikan pendapat Ulama besar, beliau panulis kitab terkenal AL-ZAWAJIR setentang orang-orang yang menjaga (menyegerakan) shalat dan orang-orang yang lalai (menunda-nunda) shalat yang lima waktu seperti tersebut ini :



·        Imam Ahmad bin Al-Haitami dalam kitabnya, Al-Zawajir mengatakan : Bahwa siapa saja yang menjaga shalatnya yang lima waktu maka Allah SWT akan memuliakannya dengan 5 (lima) perkara. Dan barangsiapa yang melecehkan shalat (mengakhirkan, mempermudah atau meninggalkannya) akan diancam oleh Allah SWT dengan 14 (empat belas) ancaman (siksaan) yaitu : 5 (lima) ancaman di dunia, 3 (tiga) ancaman pada waktu matinya, 3 (tiga) ancaman ketika berada didalam kubur dan 3 (tiga) ancaman tatkala dibangkitkan dari kubur.



·        5 (Lima) perkara yang Allah SWT akan memuliakannya bagi orang yang mengerjakan (menjaga) shalatnya, adalah :

1.      Dihindarkan dari kesempitan kubur

2.      Dihindarkan dari siksa (adzab) kubur

3.      Disodori kitab amalnya dengan tangan kanannya.

4.      Mampu berjalan diatas Shirat bagaikan kilat.

            5.   Dimasukkan Syurga tanpa dihisab.



·        Dan 5 (Lima) ancaman didunia berupa :

1.      Dicabut berkat umurnya

2.      Tanda-tanda keshalehannya dihapus dari mukanya (wajahnya)

3.      Allah tidak memberikan pahala atas amal yang diperbuatnya.

4.      Do’anya tidak dikabulkan

5.      Tidak mendapatkan bagian atas do’a orang-orang shalihin.



·        3 (Tiga) ancaman ketika matinya berupa :

1.      Matinya dalam keadaan hina

2.      Mati dalam keadaan lapar

3.      Mati dalam keadaan dahaga yang sangat.







·        3 (Tiga) hukuman didalam kubur berupa :

1.      Disempitkan kuburnya hingga hancur tulang belulangnya.

2.      Dinyalakan api didalam kubur, sehingga siang malam bergelimang didalamnya.

3.      Didatangkan kepadanya Syuja’ yaitu ular buta yang terbuat dari api, kukunya dari besi dan ia (ular) itu sepanjang hari menyiksa si ahli kubur.



·        3 (Tiga) siksa ketika dibangkitkan dari kubur berupa :

1.      Diberikan hisabnya

2.      Dimurkai Allah

3.      Dijebloskan kedalam Neraka.



Demikian keterangan (gambaran) ganjaran bagi pahala dan ancaman siksa (hukuman) yaitu bagi orang-orang yang shalat tepat (diawal) waktu dan bagi yang senantiasa menunda-nunda (lalai) didalam mengerjakan shalat yang lima waktu yang terdapat (tertulis) didalam KITAB AL-ZAWAJIR.



Setelah kita mengetahui betapa mengerikannya ancaman siksa bagi orang yang melecehkan, menggampangkan, mengulur-ngulur waktu atau bahkan meninggalkan sama sekali dari mengerjakan shalat, apakah kita masih mau bersikap lalai dengan menunda-nunda shalat kita? Sebagai orang Islam yang meskipun setipis daun bawang masih ada iman didada ini, tentu kita merasa takut dan wujud dari perasaan takut ini etisnya disikapi dengan merubah kebiasaan buruk kita yaitu dari lalai menjadi tangkas (menyegerakan) shalat kita di setiap awal waktu. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Taufik dan Hidayah-Nya kepada kita sehingga dengan sebab kasih sayang dan izin-Nya kita sanggup (mampu) tangkas menyegerakan shalat disetiap awal waktu dan mampu (sanggup) membuang jauh-jauh (tanpa tersisa sedikitpun) perasaan dan keinginan untuk menunda-nunda (lalai) melaksanakan shalat.





Semoga Allah SWT berkenan memberikan kekuatan memberi kemudahan-kemudahan sehingga didalam meningkatkan ibadah kita kepada Allah SWT dengan rasa iman, khusu’ serta ikhlas sesuai niat Li ibtighaa’i mardhaatillah (yakni untuk memperoleh keridhoan Allah semata) Insya Allah tangkas kita mengerjakannya. Amin! Ya Robbal Alamin.



            Akhir dari tulisan (artikel) religius sebagai syiar dakwah lewat tulisan ini, penulis mengajak sidang pembaca mari kita bertekad, kita patri niat dihati kita, bahwa mulai saat (detik) ini kita tidak lagi menunda-nunda shalat kita. Begitu suara Azan berkumandang sebagai pertanda waktu shalat sudah tiba, kita tinggalkan segala kesibukan, kita menyegerakan mengambil air Wudhu’ dan kita shalat. (Kita datangi masjid (musholla) kita shalat berjamaah). Subhanallah! Kalau sudah demikian keseharian kita, kalau sudah demikian kapanpun dan dimanapun aktifitas ibadah kita (keluarga) kita, betapa indahnya hidup ini, betapa nyamannya kehidupan ini dan sesungguhnyalah betapa berbahagianya hidup dan kehidupan orang-orang Islam. Allahu Akbar!

Biografi Nabi Muhammad . RAFF

biografi singkat Muhammad s.aw

Muhammad bin Abdullah bin abdul manaf dilahirkan dikota makkah.abdullah ayah beliau meninggal dunia sewaktu beliau dalam kandungan,ibu beliau juga meninggal dunia sewaktu beliau berumur enam tahun.
Akhirnya beliau dibesarkan oleh kakeknya yang bernama abdul muthalib,sampai ia berumur delapan tahun,setelah kakeknya meninggal dunia ia tinggal dengan pamannya abu thalib,selama dia tinggal dengan pamannya ,prilaku dia mendapat perhatian penduduk sekitarnya,ia berbeda dengan anak anak yang seumur dengan beliau,dimana ia menata rapi rambutnya dan membersihkan wajah layaknya seperti orang dewasa,ia tidak rakus dalam masalah makanan dan tidak saling berebutan,sebagai mana anak anak sebaya dengan dia,dia hanya mencukupi sedikit makanan dan minumaan dan menjaga dari sipat tamak.dalam hal situasi dan kondisi beliau selalu menunjukan sikap dewasa.
Setelah bangun dari tidur kadang kadang ia pergi kesumur zamzam dan minum beberapa teguk,ketika matahari beranjak tinggi dia dipanggil untuk sarapan ,dia hanya berkata"aku tidak merasa lapar"ia tidak pernah mengucapkan lapar dan haus baik dari kecil atau dah dewasa.

Pamannya abu thalib selalu menidurkan ia disampingnya aku tidak pernah mendengar kata kata bohong dari mulutnya dan tidak ada prilaku yang tidak senonoh yang dia perbuat.tidak suka alat alat mainan ,menyendiri dan merendahkan hati.

Pada usia delapan tahun dia menemani pamannya pergi berdagang kesyam(Syria)dalam perjalanan inilah sifat dan amanah dia teruji
Pada usia dua puluh lima tahun ia menikah dengan khadijah binti khuwailid
Dikalangan masyarakat makkah dia kerkenal dengan gelar al amin, ia turut andil dalam perdamaian perperangan dua kabilah dimakkah,dia telah membuktikan ikut sertanya dalam perjanjian hilful fudhu,ia telah membuktikan kecintaan sesama manusia


Kesucian dan kejujuran dan menjuahkan diri dari segala bentuk syirik dan menyembah berhala.tidak pedulu dengan gemerlapan dunia dan selalu memikirkan pencipta ini dia yang membedakan rasullulah dengan yang lain

Pada usia empat puluh tahun ia diangkat menjadi nabi selama tiga tahun ia berdakwah secara diam diam dikota makkah setelah masa tiga tahun turunlah ayat yang berbunyi"berilah peringatan kepada keluarga dekat mu"dan dia mulai melakukan dakwah secara terang tarangan dan dia mulai dari keluarga dekat dia sendiri setelah itu ia mendakwahkan untuk bertauhid dan meninggalkan syirik danmenyembah berhala

Semenjak dakwah rasul terang terangan kaum quraisy menyatakan peperangan dengan beliau dan menentang dakwah beliau,dan menganggu segala aktivitas beliau
Selama tiga belas tahun rasulullah s.a.w,menghadapi segala gangguan dan ejekan dari pembesar pembesar quraisy dengan tegar ia tidak mundur walaupun selangkah
Dari missi nya
Setelah tiga tahun berdakwah dimakkah dia terpaksa harus hijrah kemadinah pasca hijrah dimadinah lahan untuk dakwah islam tersedia dengan baik miskipun pada priodese sepuluh tahun ini musyirikin munafikin dan kabilah kabilah yahudi selalu menganggu.

B AKHLAK RASULLULLAH S.A.W

Rasullulah s.a.w adalah manusia yang paling sempurna dan penghulu diantara nabi nabi terdahulu untuk membuktikan keagungannya kita cukup mengetahu bahwa allah swt memanggiilnya dalam al quran dengan sebutan wahai rasul atau wahai nabi ,dan menjadikan contoh teladan untuk alam semesta allah berfirman"sesungguhnya beliau memiliki akhlak yang mulia dan sempurna

Allah berfirman"engkau ya Muhammad berada diatas puncak budi perkerti yang agung seandainya engkau berperangai kasar dank eras hati niscaya mereka berpaling dari mu

Salah satu islam berkembang dengan pesat karma akhalak rasullulah s.a.w yang terpuji is tidak pernah menyia –siakan waktu kesempatan yang dimikiki,ketika berdoa ia selalu merintih "ya allah aku berlindung kepadamu dari segala bentuk penganguran dan rasa malas.ia berprinsip untuk selalu menegakan keadilan ,dalam masalah dagang ia tidak pernah berbohong dan melaksanakan praktek penipuan serta mempersulit pembeli, ia tidak pernah berdebat dengan siapapundan tidak pernah melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain.


Ia memiliki pendirian bahwa kejujuran dan menjaga amanah pondasi utama kehidupan,ia pernah bersabda"dua hal (jujur dan amanah)sangat ditekankan para nabi yang terdahulu
Sabda rasul"bantulah saudaramu baik itu yang zalim dan mazlum kemudian para sahabat keheranan kita telah mengetahui bagaimana Bantu saudara yang dimazlumi tapi bagaimana membantu saudara yang zalim? Ia menjawab :cegahlah ia jangan sampai berbuat zalim kepada orang lain

Rasullah menghadapi orang orang yang selalu menyakiti dia dia selalu memaafkan dan memperlakukan mereka dengan baik sehingga mereka malu sendiri
Pasa suatu hari ketika beliau melalui sebuah lorong dimadinah seorang yahudi menuangkan air diatas kepalanya dari atap rumah,akan tetapi ia berlalu begitu saja tampa ada rasa marah sedikitpun setelah membersihkan diri dan bajunya ,dihari yang lain terulang lagi tapi rasul tatap saja sabar.

Pada hari berikutnya ketika dia lewat dilorong itu orang yahudi tidak lagi menuangkan air keatas kepalanya dengan heran dan senyum ia bertanya mengapa hari ini ia tidak menyiram air lagi? Penduduk yang mukim disana berkata ia sakit ,lalu rasul bilang kita harus menyeguknya,ketiga melihat keakraban dan kecintaan luhurnya diwajah rasul orang yahudi merasa bahwa dirinya adalah sahabat lama.dihadapkan kepada pandangan mata Muhammad saw penuh cinta kasih ia merasa jiwanya tercuci bersih dan keinginan untuk menyakiti hilang musnah.
Dan ia sangan rendah hati sehingga bang arab yang congkak dan panatik tunduk kepadanya segala tindak lakunya mencerminkan kecintaan kekuatan kerelaan ketegaran cara berpikir beliau juga tinggi dari keindahan jiwanya setiap tampil sebagai sosok yang agung.

C.KARAKTER DAN KEUTAMAAN RASULLULLAH SAW

Salah satu karekter rasulullah saw yang paling menonjol adalah kemenangan tidak menjaga kan dia bangga hal ini bisa kita lihat diperang badar dan pembebasan kita makkah(fathu makkah) dan kekalahan tidak membuat dia putus asa dapat kita lihat pristiwa perang uhud bahkan dengan cekatan is mempersiapkan pasukan baru untuk menghadapi hamru"ul asad dan pengingkari perjanjian yang dilakukan kaum yahudi bani quraizah ,dan kewaspadaan beliau,selalu mengedek kekuatan musuh dengan teliti dan mempersiapkan segalanya.

Dia memperlakukan kaum dan pengikutnya dengan tujuan mempererat silaturrahmi dan selalu menamamkan rasa percaya diri dalam mereka is selalu mengasihi anak anak kecil dan mengayomi mereka.berbuat baik dengan fakir miskin dan terhadap hewan dia selalu menanamkan rasa kasih sayang dan melarang untuk menyakiti binatang
Salah satu contoh rasa prikemanusian rasul saw adalah ketika mengutus pasukan untuk berperang dengan musuh dia selalu berpesan tidak boleh menyerang kaum sipil,dia lebih memilih damai terhadap musuh dari pada berperang ketika berperang dia berpesan tidak boleh membunuh lanjut usia anak kecil perempuan dan mengniaya musuh yang sudah tidak berdaya
Ketika kaum quraisi minta suaka politik kepadanya ia tidak memberlakukan baikot ekonomi bahkan ia menyepakati import gandum dari yaman
Ia juga menyerukan realisasikan sebuah perdamaian dunia dan melarang peperanga kecuali hal yang darurat


D. USAHA RASUL SAW DALAM MEMBENTUK MASYARAKAT &BERPRIKEMANUSIAN

Kedatangan rasul adalah sebuah rahmat bagi manusia semuanya is tidak pernah membedakan seseorang pun baik itu kulit putih atau kulit hitam dan dari suku bangsa mana,karma semua manusia itu makan dari rizki allah yang diberikan allah
Rasul saw mengajak manusia untuk
1:meningkatkan harkat martabat manusia ia bersabda semua manusia berasil dari adam dan ia berasal dari tanah
2: mengajak damai sebelom perang
3: memaafkan sebelom membalas
4: mempermudah seseorang sebelom membalas perbuatan
dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa peperangan yang dilaksanakan bertujuan untuk merealisasikan tujuan tujuan insani yang agung dan menuju kepada tatanan masyarakat yang berprikemanusian

ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah sebuah rahmat bagi manusia dan alam semesta peristiwa itu bisa dilihat dari pembebasan kota makkah dangan segala kemenangan yang telah digapai saat itu ia tetap berbuat baik dengan musuh dan enggan untuk membalas dendam padahal ia dapat melaksanakan ia pernah memaafkan mereka dengan sabda"pergilah kalian karma kalian sekarang sudah bebas pada waktu perang dzatur riqa dia berasil menangkap pemimpin gauts bin al harits yang berusaha beberapa kali membunuh beliau akan tetapi tetap dimaafkan

rasul memperlakukan tawanan perang dengan baik ,ia telah membebaskan seorang tawanan perang dengan tangan dia sendiri disaat ia mendengar keluhan rasa sakit tangannya diikat.

E. RASUL SEBAGAI PANGLIMA PERANG
Kita bisa lihat keberasilan beliau dalam memenangkan peperangan dan menciptakan perdamaian dan mengujudkan manusia yang berakhlak dan memimpin pasukan dengan gagah berani

F.TATA KRAMA BERGAUL
Beliau tidak pernah sombong dalam pergaulan selalu tersenyum berbuat baik sesame manusia selalu menyenguk orang sakit tidak pernah memotong pembicaraan lawan tidak pernah mengangap dirinya mulia dari teman yang diajak bicara
Masih banyak lagi sipat2 rasul yang kita bisa dapat teladani.. mudah2an kita bisa dapat meniru akhlak rasulullah amin....

Sejarah Islam Di Indonesia . RAFF

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA


Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

Berlangganan

ayo berlangganan FREE atikel dari islami qolbu ke web anda :
copy-paste code ini :

versi tampilan daftar isi

versi Tampilan Animasi/Dinamis

Tampilannya Seperti Ini :

ISLAMI QOLBU

↑ Grab this Headline Animator

Kunjungi juga

Jago Bangkok Juara.. Here


Google

Sweety Moment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More